Monday, September 21, 2015

DI SEPANJANG JALAN KENANGAN DENGAN MAMAK AJIS/PAKCIK AJIS.

HOThe JP
          Di kalangan Keluarga Besar kami di Batu 14 Jalan Cheras,Kajang Selangor beliau disapa sebagai Pakcik Ajis atau Mamak Ajis mengikut gaya Mandailing.
          Mamak kami itu dikenal oleh masyarakat umum sebagai Tun Dr Hj abdul Aziz anak Hj Abdul Majid yang merupakan halak/orang Mandailing,Marga Lubis Talombang dari Tamiang yang kini sebahagian daripada Kecamatan Kotanopan,Kabupaten Madina (Mandailing Natal,Sumatra Utara.)Abdul Majid anak Raja Gadu .Saudara-saudara Abdul Majid yang lainnya,Jaguru(doar) dan Abul Azis tetap meninggali Tamiang dan tidak ikut migrasi ke Malaya yang oleh orang Mandailing disebut Kolang.
          Pada penghujung abad 19 Abdul Majid ,remaja usia 16/17 tahun (mengikut tutur nenek/uan ) merantau ke Kajang.Dia keluar dari rumah dan meninggalkan Tamiang tanpa diketahui sesiapapun.Dia patah hati lantaran perselisihan dan konflik dalam keluarga.Demikian anekdot dari isterinya.Pada
mulanya beliau bersawah di lahan di tepi Sg Langat ( Batang Langat kata Uan ).Kemudian bekerja sebagai forest ranger rendahan di Ulu Langat dengan Raja Alang yang menjadi Forester pada awal abad 20 . Raja Alang marga Nasution ,asal Pidoli Lombang di dekat Kota Panyabungan.Atas dasar olong dohot domu( kasih sayang dan setiakawan di kalangan halak Mandailing) Raja Alang menerima Abdul Majid,mantan pesawah dari Tamiang sebagai" pekerja gomen ".Setelah menyediakan biaya  dari penghasilannya beliau berhaji .Terdahulu dia menikahi  Niah,anak perempuan Nakhoda Panjang ,orang Tamusai.
          Haji Abdul Majid mendapat beberapa orang anak laki-laki dan perempuan dengan Niah,nenek saya itu.Abdul Aziz,mamak kami,anak ke - 6 dan dilahirkan pada tahun 1908 di Kajang.Sebelum masuk sekolah Inggeris,Government English School Kajang(kemudian dikenal sebagai Kajang High School di situsnya yang baru di Jalan Semenyih) beliau belajar di Sekolah Melayu Laki-laki Kajang yang kini situsnya menjadi parkiran Mesjid Jamik Kajang.Seperti terbiasa pada masa dulu,beliau diajari mengaji oleh ayahnya,Haji Abdul Majid ,seorang yang warak dan mendapat didikan agama di Mandailing.Mungkin juga beliau belajar mengaji dengan Tuan "Kali" Tuo yang terkenal sebagai guru agama di seputar Batu 14 dan Sg Kantan.

2

          Masa di Sekolah Melayu merupakan masa yang amat menggembirakan dan menyenangkan buat mamak. Beliau anak yang pintar,tidak suka main hapal-hapalan kalau belajar,penuh vitalitas,berminat kepada macam-macam kegiatan dan tidak mahu terikat dengan peraturan dan disiplin .Sekembalinya dari sekolah dan setelah menjamah makan seadanya,beliau bergegas keluar meninggalkan tugas-tugas di rumah yang dipikulkan kepadanya kepada saudara-saudaranya yang lain seperi bapak saya,Ibrahim dan terutama saudara perempuan lainnya.
          Beliau mengisi masa di luar sekolah dengan teman-teman .Mereka main-main di sawah sambil mencari ikan.Mereka keseringan bermain guli dan gasing di halaman rumah teman-teman dan tidak di halaman rumah sendiri sebab ibunya akan naik marah.Kadang-kala mereka akan merayau-rayau di tepi Sungai Langat/Batang Langat yang masih banyak semak dan hutannya.Di situ mereka akan menjerat ayam denak atau memikat burung balam dan merebuk.Sewaktu telah dewasa dan kemudian menjadi orang besar dalam pemerintahan ,beliau masih saja berminat memelihara unggas yang demikian itu.Memang  pengetahuannya mengenai burung merebuk terutamanya amat luas seperti yang pernah diungkapkannya dalam sebuah artikel yang ditulisnya buat majalah Straits Times Annual dalam tahun 1950-an dahulu.

3
          Kesukaanya kepada kegiatan-kegiatan extra-curriculum masih diteruskannya sewaktu belajar di Government English School Kajang .Matapelajaran yang ditekuninya makin sukar dan beliau ,pada waktu yang sama,harus menguasai Bahasa Inggris.Beliau masuk sekolah Inggeri kira-kira pada usia 11 tahun sewaktu sekolah itu membukakan pintunya pertama kali pada tahun 1909 .Pada tahun ini beliau telah melampaui batas umur masuk kelas 1 seperti teman-temannya yang lain .Kebanyakan mereka over-age..Mujurlah peraturan batasan umur ini tidak diberlakukan dengan tegas dan mereka diterims juga masuk sekolah .
          Director of Education,E C H Wolff mengomentari tentang murid-murid yang "lebih umur "ini sewaktu inspeksi ke Kajang Government English School tahun 1922.Mengutip kata-katanya dalam laporannya  " I am glad to see so many Malay boys ( baca Mandailing ) at this school but some of them appear to have waited too long before entering an English School ." - KHS MAG 1959 .Waktu ditulis komentar ini Mamak Ajis di kelas 4 barangkali seusia 14 tahun .
          Kendatipun ada kendala seperti matapelajaran akademis yang baru dan kesukaran mempelajari bahasa yang sukar pula,Mamak Ajis bersikap biasa-biasa saja.Otaknya yang pintar menguasai pelajarannya dengan cepat dan mudah.Bahasa Inggeris dipelarjari dengan penuh minat dan antusiasme. Teman-temannya mengagumi kecakapan linguistiknya .Maka tidak mengherankan beliau lulus ujian  sekolah yang penting pada zaman kolonlal dahulu dan beliau bukan  kutu buku atau ulat buku.Tiada yang lebih keheranan daripada teman-teman sepermainannya apabila Si Ajis lulus Overseas Junior Cambridge dan kemudian Overseas Senior Cambridge Examination .

4
          Justru kesuksesannya pada ujian yang amat prestisius itu dan kepandaiannya berbahasa Inggeris ,si Aziz,anak keturunan Mandailing Marga Lubis lni yang semata-mata bertutur Bahasa Melayu Kampungan aksen Mandailing diterima menjadi guru muda/ "student teacher" di alma mater-nya pada bulan Julai 1926 .Tetapi menjadi guru di kampung bukan ambisinya.Pada Oktober tahun yang sama beliau dipindahkan ke Pejabat Daerah / District Office .Barangkali ada orang penting dan berpengaruh,yang menyadari potensinya, menghendaki beliau bertugas di sana.Apa lagi beliau juga menyadari pastinya prospek di situ akan lebih baik. Dan pada waktu beliau ditarik ke Distrct Office,Raja Uda,seorang kerabat Sultan Selangor,menjadi ADO/Penolong Pegawai Daerah.Sewaktu bertugas di sana,mamak Ajis ditawari ikut suatu ujian masuk Malay Administrative Service yang pada zaman kolonial  merupakan  monopoli putra aristokrat dan pembesar Melayu yang lainnya. Mereka dilatlh  untuk menjadi pegawai menengah yang akan membantu adminIstrasi kolonial Inggeris di Federated Malay States/Negeri Melayu Bersekutu (F M S).

5
          Mamak Ajis kami itu berangkat ke Kuala Kangsar,Perak setelah kedua orangtuanya yang berpenghasilan kecil ,punya beberapa orang anak laki-laki dan perempuan dan yang hidup seada-adanya saja ,mengadakan beaya perjalanan ke Perak.Ujian penting yang akan diikuti Mamak Ajiis diadakan di Malay College Kuala Kangsar  pada tahun 1930 dan diikuti oleh calon dari seluruh FMS.
          Hasil ujian yang diumumkan membuat orang tercengang.Abdul Aziz bukan saja lulus ujian bahkan  "top of the class "  beserta Abdul Aziz Ishak ,anak kampung juga dari Pahang.Mungkin mamak tidak ikut tecengang.Tahu dia dirinya terbikin daripada   "sterner stuff" -intelek yang tajam dan menangkap,pengetahuan umum yang luas,memori yang kuat dan kemahiran berbahasa Inggeris yang lumayan bagusnya.Berpuluh-puluh tahun kemudian dan setelah berpuluh pula catatan dan laporan yang ditulis Abdul Aziz sebagai pegawai pemerintahan ,Tan Sri Abdullah Ahmad,Editor-in-Chief New Straits Times mengomentari ( Jan 30 2003) bahwa pegawaii-pegawai Melayu dalam birokrasi kolonial Inggeris ( disebutnya nama Abdul Aziz antara yang lain-lainya) telah menguasai Bahasa kolonial itu dengan baik sekali kendatipun mereka anak kampung dan orangtua mereka tidak tahu sepatah kata Inggeris tetapi terus berbicara menggunakan dialek etnis mereka masing-masing : ( pegawai-pegawai itu) " spoke and wrote excellent English ......the reports which they(read Abdul Aziz)wrote can be accessed from the archives ".

6
          Agar jangan menyimpang -nyimpang lagi untuk membuktikan kesanggupan anak-anak kampung tadi,terus saja dikatakan bahwa Abdul Aziz diterima sebagai birokrat kolonial Inggeris atas dasar meritokrasi.Pihak kolonial Inggeris tidak keberatan malah senang sekali mendapat seorang pegawai yang berpotensi besar .Dalam pada itu ada suara-suara protes yang tidak suka anak-anak "Melayu dagang" atau "Melayu Mandailing" menerobosi Malay Administrative Service yang dianggap sebagai monopoli golongan Melayu Jati itu.Pada masa itu telah dimasukkan juga oleh Inggeris beberapa orang etnik Mandailing dan Minangkabau sebagai pegawai pada Malay Administrative Service(M A S) .Suara protes ini asal daripada individu yang nama samarannya Anak Watan(Warkah PSM Bil 30/11).
          Protes dari Anak Watan dan dari pihak yang lain yang berdasarkan prasangka terhadap Melayu Dagang tidak merupakan kendala kepada Abdul Aziz yang terus diberikan  tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya dan dilaksanakannya sebaik  mungkin.Pada zaman Pendudukan Jepun beliau masih dipercayai dan diminta meneruskan tugas-tugas administratif atas nama Dai Nippon di Kuala Klawang dan Kuala Pilah,Negeri Smbilan.Pengalaman dan kepakaran pegawai-pegawai administratif yang  diajari Inggeris dimanfaatkan oleh Jepun sehingga urusan pemerintahan tidak terganggu-gugat.Secara taklangsung pihak penjajah baru dari Matahari Terbit itu membenarkan bahwa sistim birokrasi Inggeris mengendalikan warga jajahannya masih dapat diterapkan,efektif dan fungsional.

           Salah satu posisi penting dalam karir Abdul Aziz yang makin menanjak dicapainya pada tahun 1952 .Pada tahun ini beliau ditunjuk menyandang tugas sebagai Acting Menteri Besar Negeri Sembilan atas saran M.C.ff Sheppard untuk  mengatasi masalah pergantian Menteri Besar yang baru buat negeri ltu.Pada waktu itu Sheppard  merupakan British  Adviser di  sana.Pada evaluasinya Abdul Aziz adalah pilihan yang paling tepat buat posisi Menteri Besar.Tetapi para orang besar tidak pikir begitu karena Abdul Aziz orang Mandailing.Maka  dikembalikan beliau ke Selangor setelah kurang-lebih satu setengah tahun di Negerl Sembilan.

7
          Sekembalinya di Selangor,kampung-halamannya ,ternyata nasibnya lebih baik .Beliau ditunjuk sebagai State Secretary/Setiausaha Kerajaan.Kemudian ditunjuk pula sebagai Acting Menteri Besar.Dua kali beliau merangkap status acting seperti dikatakan oleh N B P di pojok Old Boys'Jottings KHS Magazine 22/1954.Tetapi status itu tergeser apabila Baginda Yang Maha Mulia Baginda Sultan Selangor memilih Abdul Aziz menggantikan Sir Raja Uda sebagai Menteri Besar tanggal 24 August 1955.Bintangnya semakin bersinar setelah ikut Devonshire Course dengan sukses di Oxford selama setahun mulai tahun 1948.Memakai sepatu Raja Sir Uda adalah suatu tantangan besar dan bukan buat siapa saja yang  biasa-biasa .Abdul Aziz adalah sosok luarbiasa.  Pengangkatannya sebagai Menteri Besar Negeri Selangor yang berlipat ganda maju berbanding Negeri Sembilan memang begitulah sewajarnya.

8
        Sesuai etika birokrat Malayan Civil Service,Abdul Aziz apolitik tetapi tetap nasionalistis seperti Abdul Aziz Ishak,"top of the class" seperti dia juga di Kuala Kangsar pada  tahun 1930.Sebagai seorang nasionalis dan antikolonialis pula,Abdul Aziz Ishak menolak hidup sebagai birokrat dan beliau menggabungkan diri dengan gerakan antikolonialis yang berjuang untuk mencapai Kemerdekaan Malaya.Abdul Aziz bin Haji Abdul Majid,Menteri Besar Selangor ,pengganti Raja Sir Uda adalah birokrat sejati yang ikut terlibat dalam gerakan mencapai kemerdekaan tetapi dengan cara taklangsung.Berkat kepintarannya berbicara,berdiskusi dalam Bahasa Inggeris dan pengetahuannya berkenaan administrasi beserta sentimen promonarkinya,Baginda  Raja-Raja Melayu berkenan memilih beliau sebagai  salah seorang wakil Raja-Raja yang akan mewali kepentingan dan kedudukan Baginda dalam Negara Tanah Melayu Yang Merdeka nanti.
         
9
          Pada awal tahun 1956 keluarga dan beberapa sanak-saudara yang lain telah bermalam di kediaman Menterl Besar Selangor di Prince's Road Kuala Lumpur sebab akan ikut menghantar Mamak  ke Railway Station Kuala Lumpur pada besoknya.Beberapa anggota Misi Kemerdekaan dan keluarga mereka sudah menunggu di pelataran stesin.Encik Abdul Kadir Shamsuddin kelihatan berdiri di pelataran.Beliau merupakan Setiausaha kepada Perwakilan Baginda Raja-Raja Melayu yang akan ikut berangkat ke London .Kereta Api Tanah Melayu akan membawa Misi Kemerdekan ke Singapura dahulu sebelum diberangkatkan ke London.Gemuruh pekikan "Merdeka" dan kepalan tangan yang menusuk  udara oleh kerumunan di pelataran stesen mengiring kereta api yang sedang bergerak  perlahan-lahan membawa para penumpangnya "for a tryst with destiny"
10 
          Sekolah kami Kajang High Schooi merasa amat bangga dua orang alumninya yang terbilang berada dalam kereta api yang membawa anggota Merdeka Mission di  perjalanannya menuju destinasi for a tryst wtth destiny itu.Encik Abdul Aziz,salah seorang wakil Baginda Raja-Raja dan Encik Abdul Kadir Shamsuddin yang merangkap Setiausaha Perwakilan  Raja-Raja memainkan peran yang amat penting  dalam perundingan-perundingan dengan pihak kolonial untuk merebut Kemerdekaan .Abdul Aziz alumnus 1920-an asuhan Guru Besar /Head Master Ng Seow Buck yang memperjuangkan agar kelas Overseas Senior Cambridge Examination dibuka untuk para murid Government English School Kajang yang kemudian dikenal sebagai Kajang High School.
         Sementara itu Abdul Kadir Shamcuddin alumnus 1939-an dan asuhan Guru Besar C E Gate dan  seingat saya merupakan satu-satunya Queen's Scholar dari Kajang High School pada tahun 1930-an.
Beliau pelajar yang brilyan.Setelah meraih ijazah ilmu hukum dari Negeri Inggeris,beliau ikut kuliah pula di Yale dan Harvard,Amerika Serikat menekuni ilmu administrasi negara.Meningkat karirnya dan menjelang Kemerdekaan beliau merupakan Seiausaha Pertahanan.Dalam perundingan Perjanjian Pertahanan dengan pemerintah Inggeris beliau diangkat sebagai salah seorang dari anggota team ahli perunding yang mewakili Persekutuan Tanah Melayu di samping Abdul Aziz yang sudah barang tentu memperoleh  input yang vital dari Setiausaha Pertahanan,mantan rekan sekolah Abdul Aziz di Kajang High School.

11
          Justru jasa dan kepintaran dan kepakarannya ,Abdul Aziz meraih posisi tertinggi pada trajektori  karirnya apabila menerima pengangkatan sebagai Permanent Secretary Prime Minister's Department yang dalam masa kolonial disebut sebagai Chief Secretary dan merupakam monopoli birokrat kolonialis Inggeris.
          Penghormatan dan penghargaan buat pegawai tertinggi ini beruntun datangnya dari dalam dan luarnegeri.DYMM Yang Di-Pertuan Agong menganugerahinya titel Tun saat diangkat sebagai Yang Di-Pertua /Gubernur@Gabnor Negeri Melaka.Terdahulu Baginda Sultan Selangor berkenan menganugerahinya bintang P J  K .Beliau mendapat penghargaan pula dari Ratu Elizabeth dari Inggeris yang menganugerahinya titel C B E(Commander Of The British Empire).Universti Malaya turut menghargai jasa dan sumbangan beliau kepada Nusa dan Bangsa dengan penganugerahan Doctor Honoris Causa.

12
          Maka di ujung trajectory karirnya yang dimulai tahun 1927 sebagai guru muda di alma mater-nya( Government English School Kajang/ Kajang High School) dan seketika sebagai petugas bawahan di District Office Hulu Langat ,mamak diangkat sebagai Yang Dipertua Negeri di Negeri Melaka.
          Mamak Ajis(sapaan yang lain Pakcik Ajis) tutup usia saat masih dalam masa jabatannya sebagai Gubernur Negeri Melaka pada tahun 1975. Keluarga yang ditinggalkannya minta beliau dikebumikan di Kajang,kampung kelahirannya atas alasan mudah menjenguk atau menziarahi pusaranya .Jenazahnya diberangkatan ke Kajang oleh Kerajaan Melaka dan di bawa dulu ke rumahnya yang biasa-biasa saja beralamat No 11 Sentosa ,Reko Road,Kajang dan disemayamkan di situ agar "koum"-nya,teman-teman sepermainan dan masyarakat setempat berkesempatan memberikan penghormatan dan menatap wajahnya pada kali terakhir sebelum dikebumikan.
          Diiringi upacara pengkebumian resmi,Tun Dr Hj Abdul Majid Lubis diturunkan ke liang peristirahatan di bawah pepohon rindang-rimbun,dikelilingi pusara ayah bundanya dan "koum" yang telah mendahuluinya.


13
          Mamak kami itu memang telah berperan penting dalam bidang adminitrasi  dan perundingan politik dan pertahanan negara menjelang Kemerdekaan Persekutuan Tanah Melayu.Barangkali semuanya akan tercatat dalam naratif sejarah kita dan akan dibaca oleh generasi yang akan datang.Mungkin juga peristiwa-peristiwa penting dan historis dalam hidupnya yang menyangkut sejarah negara akan merupakan sebagai foot-note saja pada buku sejarah.
          Momen-momen historis dan yang tak terlupakan dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya akan tertampung dalam sebuah memoar atau autobiografinya.Sayangnya setahu saya tidak ada almahum menuliskannya ataupun menerbitkannya.Beliau amat berbakat dalam penulisan.Penguasaan Bahasa lnggerisnya baik sekali dan senang sekali beliau menuliskan entri dalam jurnal pribadinya atau buku harian.Beliau juga senang berkorespondensi sama teman-teman dan juga sama anak-anaknya yang belajar di Malay College Kuala kangsar.Semuanya tertulis dalam Bahasa inggeris yang amat bagus.Terkecuali surat udara yang dilayangkannya dari Waikiki,Hawaii kepada adiknya,Ibrahim,bapak saya yang pada waktu itu sedang berangsur-angsur pulih dari kondisi hipertensi.Surat itu tertulis dengan ejaan Jawi.Obat hati buat adik dari seorang saudara tua yang peduli !
          Saya tahu benar mengenai jurnal yang ditulis mamak/pakcik.Anak-anaknya dan terkadang keponakannya seperti saya keseringan dimintanya memicit-micit kakinya sambil beliau berbaring.Pada saat yang demikian itu beliau akan menghibur kami dengan membuka cerita-cerita fabel Barat atau dari cerita-cerita Shakespear seperti Merchant of Venice.Pada suatu kali saya melihat beliau mengeluarkan sebuah jurnal dari brief-case dan membacakan isinya yang mengenai peristiwa-peritiwa kekeluargaan seperti berita gembira dan berita duka .Beliau juga mencatat berbagai-bagai pengalamannya sewaktu bertugas di Pahang (Kuala Lipis )di Perak (Grik dan Telok Anson) ,Negeri Sembilan ( Jelebu dan  Kuala Pilah ) dan Selangor ( Kuala Selangor,Kuala Kubu,Kajang dan Kuala Lumpur ).

14
         Kegemaran Mamak Ajis mengarang dan penguasaan Bahasa Inggeris yang amat baik tidak luput dari pemerhatian Guru Besar,Mr Ng Seow Buck yang terkenal pula ketrampilannya berbahasa Inggeris ketika di bangku sekolah .Pastinya beliau menyarankan kepada mamak  menulis apa saja setiap hari di buku catatan agar menjadi kebiasaan.Dicontohkannya Samuel Pepys penulis yang menjadi terkenal lantaran seringkali mencatat dan merekam kehidupan keseharian masyarakat di Inggeris dalam abad 18 dahulu.
          Dorongan yang datangnya daripada Guru Besar yang berwibawa dan berpengetahuan luas itu pastinya menumbuhkan minat menulis yang lebih mendalam di diri mamak.Maka tidak mengherankan beliau menulis jurnalnya secara rutin sewaktu ada waktu senggang pada sesudah makan malam.Seandainya masih   tersimpan ,jurnal itu merupakan dokumen penting kepada siapa saja dari kalangan anak-cucunya yang berhasrat menuliskan biografi mamak.Seperti telah dipernyatakan mamak tidak ketahuan menulis memoarnya lantaran sibuk dan tak punya waktu.Mungkin saja mamak tidak mahu sesiapapun yang akan tahu latarbelakangnya sebagai anak imigran Mandailing yang pada waktu itu merupakan kendala kepada ambisi profesional dan sosialnya berintegrasi dengan masyarakat Melayu.

15
          Setelah kalah dalam Perang Kolang orang Mandailing yang memihak Raja Mahadi dianggap musuh besar yang harus ditembak dan disita harta-benda mereka sesuai dengan dekrit yang dipikulkan kepada Tengku Kudin oleh Sultan Selangor sewaktu perang berkecamuk.( 25 August 1870 -khoo Kay Kim  1972/1975) .Setelah habis perang, Raja Asal yang amat ditakuti oleh angkatan Selangor terpaksa mengevakuasi kombatan Mandailing bersama-sama keluarga mereka ke Negeri Perak.Orang Mandailing yang lain di Selangor meluruhkan identitas etnik mereka( bahasa,marga dan nama yang spesifik Mandailing) agar terhindar dari "genosida" dan kemudian membaur dengan masyarakat setempat dan masuk Melayu.Faktor dan prasangka  anti-Mandailing yang demikian ini dan yang masih berleluasa sampai pada awal abad 20 yang pada logisnya merupakan sebab-musabab mamak menyelubungi asal-muasalnya.Pastinya hal tersebut akan terkuak juga dalam menuliskan sesuatu memoar atau autobiografi oleh beliau sendiri ataupun oleh orang lain.

16
          Terserah kepada anak-cucunya untuk menuliskan memoar "ompung",kakek atau datuk mereka agar latarbelakang mamak sebagai anak imigran  Mandailing yang membesar di kampung,persepsi dan tanggapannya sebagai seorang pegawai pemeritah mengenai skenario sosial-politik yang dihadapinya dalam masa tugas di pelbagai daerah di FMS ( Melayu Bersekutu),momen-momen historis dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya,perannya dalam berbagai-bagai perundingan dengan pihak penjajah untuk mencapai Kemerdekaan tanah tumpah darahnya semua ini tidak dibawa ke liang kubur bersama-sama jasadnya.Mereka mampu  menghasilkan biografi yang demikian itu untuk tatapan anak cucu dan generasi yang akan menyusul.Penulisan adalah darah daging mereka.Dalam pojok mereka di suratkabar mereka menganalisis isu-isu politik,ekonomi,sosial dan kehidupan sosialita dan elit politik dan sosial.Mereka menulis "excellent English". Ompung mereka ternyata tidak sanggup mengolah autobiografinya lantaran kendala-kendala yang dihadapinya.Dan mamak pernah mengeluh dalam suatu pesan tertulis termuat dalam Buku Tahunan alma mater nya (KHS MAG 1952): 

                      " I am no scholar and no whale can become one "

Tuesday, September 1, 2015

JA BOLGA DAN CHEMOR DI LEMBAH KINTA.

                 Hampir setahun yang lalu,tgl 24 Nov 2014 diunggah berita duka di situs Halak Mandailing Malaysia bahwa telah meninggal dunia seorang cucu Ja Bolga di Kota Baru,Kelantan,Malaysia.
                 Tidak banyak yang tahu mengenai namora Mandailing ini kecuali warga Chemor di Negeri Perak.
                 Ja Bolga ( *Bulga ) merupakan salah seorang namora Mandailing yang memainkan peran penting menjadikan Lembah Kinta sebagai " Tano Rura Mandailing " di sisi sini Selat Melaka pada abad  kesembilan belas.
                 Namora ini disebut juga sebagai Abdullah Ja Bolga anak Ja Sinumba,Marga Lubis, asal Sayurmaincat hampir dengan Kotanopan di Mandailing Julu.Sesuai dengan doktrin markoum sisolkot dalam sosiobudaya bangsa Mandailing seringkali terjadi antar perkawinan Marga Nasution (anak boru) dan Marga Lubis(mora).
                 Ja Bolga pindah ke KOLANG /SELANGOR pada awal abad ke-19 dan segera pula menggabungkan diri dengan angkatan Raja Asal dan Raja Bilah Sewaktu berlaku Perang Kolang (1867-1873 ) atas dasar loyalitas kepada Marga Nasution .Angkatan Mandailing dan sekutu-sekutunya  menderita kekalahan yang parah di tangan imperialisme Inggeris dan feodalisme Melayu dan sekutu-sekutu mereka.Maka mereka bukan saja kalah malah " tiadalah upaya diam di tempat itu lagi hingga makanan pun tidak dapat dibeli " ( RAJA HAJI MUHAMMAD YA'QUB 1934.p 4 /AR LUBIS p.235 )
                 Sebagai akibat kekalahan tersebut dan menghindari berlakunya "genosida" terhadap halak Mandailing mereka mengungsi ke Negeri Perak di bawah pimpinan Raja Asal.Ja Bolga ikut mengungsi dan untuk sementara waktu tinggal di Taiping. Kemudian pindah ke Ipoh di Lembah Kinta.Segera
pula beliau meninggalkan Ipoh untuk mendirikan pemukiman Mandailing di Chemor.Beliau Pendiri/Founder Chemor.
                 Sebenarnya situs yang dipilih Ja Bolga disebut Lalang Johot barangkali istilah Mandailing yang membawa arti PADANG BERBURU.Tepat sekali pilihannya itu sebab tanahnya adalah yang paling subur seantero Semenanjung Tanah Melayu pada zaman itu.( Rathborne/ AR L.p 128 ).Para pengikut Ja Bolga yang mayoritas terdiri daripada Marga Nasution dan Lubis turut membangun pemukiman baru mereka di Lalang Johot .Mereka bersawah,bertani,membuka dusun,mencari/menambang timah seputar pemukiman mereka. Jumlah warga di situ makin bertambah menjelang tahun 1893 ( Ibid ).
                 Nama tempat Lalang Johot tertera pada peta oleh peta Walker 1893.Tidak lagi digunakan nama itu ( Ibid ) sampai kini.
                 Ja Bolga mendirikan sebuah kediaman yang terbuat daripada pohon dan kulit kayu.Pada waktu itu kediamannya itu merupakan bagas yang paling godang di Chemor. Beliau beristri dua .Yang pertama Mihrab boru Saagari asal Singengu hampir dengan Kotanopan.Beliau mendapat 6 orang anak  dan beliau memperistri Bibah barangkali di Chemor dan mendapat dua orang anak.Pelayan di kediamannya seorang Orang Asli.Pada waktu itu terdapat masyarakat Orang Asli seputar Chemor dan Ja Bolga menjalin hubungan yang baik dengan mereka.
                 Mengikut tutur orang Ja Bolga merupakan bukan saja seorang spesialis herba/akar kayu malah seorang tukang kusuk yang kepakarannya dicari-cari masyarakat umum.Barangkali mereka yang menghasrati kepakarannya itu pada berdatangan ke kediamannya yang situsnya adalah di suatu sudut  di pemukiman Mandailing yang didirikannya di Chemor.Kediamannya diujung avenue pohon manggis.Situs ini dikenal sebagai Kampung Ja Bolga.
                Kini pemukiman Mandailing di Chemor itu dikenal sebagai Kampung Batu Sembilan dan secara tak resmi dijuluki Kampung Adam Malik.
                 Ikatan kekerabatan Nasution - Lubis yang dimulai di Mandailing Julu diteruskan di Negeri Perak.Anak Ja Bolga,Harun menikah dengan Raja Saudah boru Raja Haji Abdur-Rahman yang merupakan saudara Raja Bilah,Penghulu Papan dan ikon halak Mandailing di Perak.Boru Ja Bolga,Raja Rahmah menikah pula dengan Raja Shahabuddin,anak Raja Bilah.
                 Ja Bolga meninggal dunia 18 Nov 1921 dan dimakamkan di Pusara Muslim,Chemor.

Hanafiah Lubis
Kajang,Sel DE.
Referensi Pertama dan Utama:
Abdur-Razzaq Lubis&Khoo Salma Nasution.Raja Bilah And The Mandailings In Perak:
1875-1911  2003 MBRAS 

Thursday, April 2, 2015

SUKU MANDAILING MARGA RANGKUTI DI BATUGAJAH, PERAK,MALAYSIA.


P               Pada abad 19 sampai dengan awal abad 20  Lembah Kinta yang dialiri Sg Kinta merupakan daerah pertimahan yang terbesar dan amat produktif bukan saja di Perak( Negara bahagian/State ) malahan seluruh Semenanjung Tanah Melayu. Daerah Papan dan Gopeng merupakan yang paling banyak timahnya.Mengenai  Papan ,J.Douglas menyurati Colonial Secretary 14 September 1877 demikian:  ".........the Papan mines..............are probably the richest mines in the Malay Peninsula( A R Lubis & Khoo Salma Nasution. Pg 26 . RAJA BILAH AND THE MANDAILINGS IN  PERAK: 1875-1911. MBRAS 2003 ).
               Penghasilan timah dari Papan, Gopeng dan situs perlombongan/pertambangan yang lain dan yang jauh dari tebing Sg Kinta diantar dulu ke pangkalan-pangkalan di tebing Sg Kinta sebelum diexpor .Maka amat perlu malah vital Papan dan Gopeng diperhubungkan dengan pangkalan-pangkalan tersebut dengan batang jalan.Mulai tahun 1881 dibina jalan sepanjang 10 batu dari Gopeng ke Kota Bharu.Pada waktu yang sama dibuat pula jalan sepanjang 4 batu dari Papan ke pertemuan muara Sg Raya dengan Sg Kinta yang berhampiran pula dengan Kg Batu Gajah.
               Dua batang jalan yang dibina itu amat sederhana dan biasa-biasa saja( jalan kereta lembu atau "cart road" ) dan walaupun begitu amat memacu pembangunan dan pengembangan awal Kg Bharu dan Batu Gajah.Kedua-dua kampung lama di pinggir Sg Kinta ini berobah menjadi pusat pengumpulan  timah untuk diexport dan pusat penyedian dan penyaluran bahan-bahan keperluan dan perkhidmatan yang lain-lainnya buat ratusan perkerja lombong/pertambangan di merata Lembah Kinta.
               Pembangunan awal Batu Gajah tidak dapat dipisahkan dengan partisipasi suku Mandailing,khususnya Marga Rangkuti yang dipimpin oleh Dato/Tok  Stia Raja.
               Tok Stia Raja atau Ibrahim Rangkuti anak Ja Marabun Rangkuti ( Bendahara Raja ) lahir di Selangor pada th 1806.Sewaktu Perang Kolang/Kelang beliau sebagai ulu balang suku Mandailing ikutserta menentang Sultan Abdul Samad dan Sekutu-sekutunya disamping imam porang  seperti Raja Asal,Raja Bilah dan Sutan Puasa/Na Poso.Beliau mengungsi ke Perak bersama-sama Raja Asal apabila angkatan Mandailing dan Sekutu-sekutunya dikalahkan.
               Di Negeri Perak para pengikut Raja Asal dapat hidup aman damai walaupun tak diterima dengan sepenuh  hati oleh orang Perak yang pada waktu itu menganggap suku Mandailing itu sebagai  "foreigners of a somewhat uncivilised type" ( Swettenham. The Real Malay.1899.p 182-183/A R LUBIS. P163 ).Mereka membantu Inggeris dalam usaha mengamankan Negeri Perak dan menguruskan hal-ihwal administrasi tingkat mukim.Setelah pemberontakan dan kehuruharaan dipadamkan , Inggeris memberikan konsesi timah di Lembah Kinta kepada Raja Asal sebagai imbalan terhadap bantuan suku Mandailing terutama dalam pasifikasi Negeri Perak.
               Raja Asal memperoleh lombong timah/pertambangan timah milik  ex-Sultan Ismail antara Papan dan Blanja yang paling produktif di negeri itu --"the most productive tin mines in the state " Sir Hugh Low 26 July 1877.
               Maka pemberian konsesi tersebut membukan pintu buat imigran Mandailing terutama pengikut Raja Asal dan Raja Bilah mencari rezeki di Lembah Kinta dalam bidang pertambangan/lumbung timah.Suku Mandailing itu melampan,mendulang,membuat relau,membeli dan  menjual timah( Ooi Jin-Bee.Mining Landscapes of Kinta.1955/ AR Lubis& KSN.p 85 ).Kebanyakan kaum perempuan mereka ikut mendulang ( "......a very favourite employment with Mandheling women; .." Hale 1885.p 303 / AR Lubis. p 85 ). Seorang imigran Mandailing,Abu Bakar ( c.1930. p 164/AR Lubis p. 89 ) mencatat wanita Mandailing yang mendulang itu dapat menghasilkan 10 - 15 kati timah per hari.

               Selain di Lembah Kinta suku Mandailing mengusahankan pertambangan timah di Selama,Taiping dan Larut.Sementara itu namora Mandailing seperti Ja Barumun membuka huta/banua pemukiman suku Mandailing seputar Gopeng dan Raja Mahmud membuka huta pula di Sengat.Penduduknya orang Mandailing yang didatangkan dari Tanah Mandailing.

               Sebagai akibat partisipasi meraka dalam bidang pertambangan /lumbung timah dan pertanian suku Mandailing di Perak mengalami perobahan status sosial dari "foreigners of a somewhat uncilivised type " yang mendiami lembah-lembah perbukitan di Hulu Bernam yang langka berhubungan dengan masyarakat atau orang Perak kepada status " the wealthiest Malays in the Peninsular " ( Swettenham 1948 .p 294/AR LUBIS & KSN. p 173 ). Mereka menyebar bukan saja di Lembah Kinta tetapi juga di Selama,Taiping dan Larut.

               Dato/ To' Stia Raja ( Ibrahim Rangkuti anak Ja Marabun Rangkuti / Bendahara Raja ) ,salah seorang yang tergolong Mandailing/ "Melayu " terkaya,telah membeli tapak kedai untuk membina beberapa buah rumah kedai di Batu Gajah yang bakal menjadi pangkalan strategis di Lembah Kinta.
Pihak Inggeris telah menyediakan tapak kedai tersebut dengan mengambil tanah rakyat setempat dengan memberikan pampasan.

               Sejumlah suku Mandailing Marga Rangkuti ikut membina rumah kedai untuk membuka perniagaan .Mereka juga bertindak sebagai pedagang timah.Rumah kedai suku Mandailing Marga Rangkuti kabarnya masih berdiri di sektor Batu Gajah yang dijuluki Pekan Lama.

               Salah satu sumbangan To' Stia Raja yang penting ke arah kemakmuran Batu Gajah merupakan inisiatifnya menerapkan teknologi membuat bendungan suku Mandailing untuk mengairi tanah yang kering-gersang yang terdapat di belakang stesen.(AR LUBIS. p 70 )Justru tanahnya tak produktif .Timah yang tersimpan di dalam permukaan tanah hanya diperdapat andainya tergenang air.
Atas usaha To' Stia Raja diampangi sebatang anak sungai yang mengaliri tanah gersang tersebut untuk membina bendungan yang airnya disalurkan ke permukaan tanah yang tergenang .Sebagai akibatnya tanah menjadi produktif dan 1000 lebih kuli Cina menggunakan "lancut kecil " untuk mengaut timahnya.

               Seluas 900 ekar tanah yang lain dimohon To' Stia Raja untuk digenangi dengan teknologi bendungan orang Mandailing dan diperkirakan 5000 kuli Cina lagi akan mencari timah di situ pada ujung tahun 1891.

               Sebagai orang berharta dan kaya To' Stia Raja membina 3 buah gedung kediaman untuk keluarga besarnya di Batu Gajah dan yang paling terkenal dijuluki Rumah Kuning.Sayang sekali warisan Mandailing yang historis ini dimusnahkan th 1997.Terdapat sebuah foto yang mengabadikan  Rumah Kuning ini.Terdapat sebuah yang lain yang keadaanya memerlukan pemugaran tuntas dari yang peduli.

               Suatu lagi usaha To' Stia Raja yang belum diprakarsai oleh orang setempat ialah membuka  dan mengusahakan perkebunan getah.Barangkali beliau merupakan pribumi/ bumiputra yang mempelopori bidang perkebunan.To' Stia Raja menamai perkebunan getah miliknya di Batu Gajah Malayan Estate ,Batu Gajah Perak F M S ( AR LUBIS.p 68 )

               Kekayaan yang dibina sosok Mandailing ini meleset barangkali juga sirna pada akhirnya sebab tergadai .

               To' Stia Raja / Ibrahim Rangkuti wafat seusia 120 tahun di Batu Gajah pada tahun 1926.  ALFATIHAH .

CATATAN hanafiah lubis.
Sumber utama dan pertama:
A R LUBIS & KHOO SALMA NASUTION -
RAJA BILAH AND THE MANDAILINGS IN PERAK 2003 MBRAS.


Friday, February 27, 2015

PEMUKIMAN MANDAILING DI MALAYSIA SEPERTI TERACI DAN KARANGAI ......... ....

You IC               Pemukiman /Huta suku Mandailing di sisi sini Selat Melaka jauh dari Tanah Tumpah Darah kemungkinannya mulai didirikan akibat keadaan huru hara dan kesulitan ekonomi yang penyebabnya adalah Perang Padri yang dilancarkan oleh orang Minangkabau dan penindasan ekonomi Belanda.
               Perang Padri mengakibatkan penjarahan kampung halaman dan mata pencarian halak ni hita.Penderitaan dan kemelaratan terus berkepanjangan apabila Belanda melancarkan exploitasi ekonomi yang dinamai mereka cultuurstelsel .Hidup dan kehidupan tak mungkin diteruskan di Tanah Mandailing.Agar terjamin kelanjutan existensi mereka ,para namora Marga mumutuskan membawa rakyatnya pindah negeri.Maka berlakulah perpindahan massal/besar-besaran yang dapat dianggap mencapai proporsi EXODUS ke KOLANG yang telah lama dikenal dan didatangi oleh orang Mandailing barangkali mulai abab 14.

               Maka wajarlah kesatuan pimpinan marga Mandailing yang didominasi oleh raja dari kenegerian Maga,Raja Asal memutuskan pindah ke KOLANG /SELANGOR atau daerah-daerah yang lain di pedalaman yang merupakan perbukitan dan lembah persis seperti yang terdapat di Mandailing Julu yang mereka bakal tinggalkan itu.Mereka menaiki perahu di Siak Indragiri menyeberangi Selat Melaka  sebelum mendarat di Melaka .Dari sini mereka bergerak menuju Sg Ujung/Seremban untuk meneruskan  perjalanan ke Kolang; yang lain-lainnya bergerak ke Pahang seperti Raja Asal dan pengikut-pengikutnya yang terdiri juga daripada etnik Rao.Jalur yang dilalui dan tempat-tempat  yang disinggahi bukanlah asing lagi kepada mereka.Selama beratus tahun sebelum peristiwa exodus ini nenek moyang mereka telah pernah datang mencari emas di Pahang dan melaka.
               Daerah pesisir di Kolang yang  ditinggali etnik Bugis merupakan sebab musabab orang Mandailing menuju ke pedalaman untuk mendirikan huta/pemukiman .Di samping itu,mereka berpegang pada doktrin yang ditentukan oleh pendiri Marga Lubis ,Namora Pande Bosi apabila mendirikan huta/pemukiman yang baru .Elemen air dan tanah merupakan syarat terpenting atau sine quo non .Justru ditentukan oleh Namora Pande Bosi ,sang Pendiri Marga MUARA PATONTANG atau  MUARA PARTOMUAN adalah situs yang ideal mendirikan huta yang baru.
               Muara Patontang atau Muara Partomuan terjadi apabila dua sungai yang mengalir dari arah yang bertentangan bermuara ke sungai yang sama.Di Mandailing Julu ( daerah yang di bahagian hulu Batang( sungai ) Gadis,Aek Singengu dan Aek Singangir yang mengalir dari arah yang bertentangan bertemu muaranya pada Aek Batang Gadis.Di situs ini dan kawasan seputarnya putera Namora Pande Bosi Langkitang mendirikan pemukiman baru mengikut sabda ayahandanya.Pemukiman ini dinamai Hutanopan untuk mengenang tempat tinggal ibunda mereka.
               Sementara itu saudaranya, Baitang meneruskan perjalanan ke utara lagi dan sampai ke Muara Partomuan Aek Batang Gadis dan Aek Batang Pungkut .Di sini didirikannya pemukiman yang baru yang dinamai Muara Partomuan atau Lubis Partomuan yang dikenali sebagai Muara Pungkut pada zaman sekarang.Keturunannya dikenali pula sebagai Lubis Singasoro.
               Doktrin Muara Patontang dan Muara Partomuan oleh Namora Pande Bosi adalah untuk memastikan pemukiman Mandailing mendapat sumber air yang berterusan dari sungai yang berhampiran.
               Masyarakat Mandailing menganggap air sebagai" mata air kehidupan "justru air multi-fungsi.
               Sumber air adalah seperti:
               1. sungai atau batang
               2. anak sungai atau aek
               3. Ranting sungai atau rura .
               Sumber air berperan multi-fungsi :
               1.minum dan mandi
               2.cuci jamban
               3.mengairi lahan pertanian
               4.sosial-budaya - patuaekkon buru
               5.religius-pelaksanaan ibadah.
               6.ekonomi-mencari emas/manggore dan ikan,bahan bangunan seperti pasir,kerikil dan batu.
               Di samping dekat dengan sumber air pemukiman Mandailing pada umumnya hendaklah didirikan antara kaki gunung dan lembah.Misalnya situs Kerajaan Adat Tradisional Tamiang terletak di kaki Gunung Tor Sijanggut dan lembah Batang Gadis; sementara Kerajaan Adat Tradisional Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang terletak dikaki Gunung Kulabu dan dekat dengan aliran Batang Gadis.

2
               EXODUS HALAK MANDAILING DAN PEMUKIMAN MANDAILING DI KOLANG DAN PERAK

               Penjarahan dan kerusakan kampung halaman sewaktu Perang Padre berkecamuk dan pemerasan ekonomi oleh penjajah Belanda menyebabkan kemelaratan dan kemiskinan yang berleluasa dan berkepanjangan menjadi realitas existensi di Tanah Mandailing.Agar terjamin kelangsungan hidup dan kehidupan,kebanyakan marga Mandailing beserta keluarga,pengikut-pengikut dan namora-natoras mereka memutuskan secara kolektif menggabungkan diri di bawah kesatuan pemimpin untuk meninggalkan tanah tumpah darah dan membina hidup baru yang lebih aman dan terjamin di seberang Selat Melaka, pesisir barat Semenanjung Tanah Melayu,terutama  Kolang.

               Sebenarnya Kolang bukanlah tanah asing samasekali kepada orang Mandailing.Pada masa silam mereka seringkali POI KOLANG mencari emas dan timah.Orang Minang dan Rao pun pernah berbuat begitu.Mereka datang dalam kelompok-kelompok kecil dan apabila mereka telah mengumpulkan sedikit uang dari rantau,mereka pulang ke Mandailing.Mereka membawa bingkisan sepert Tonun Pattani yang amat diminati di sana.Mereka juga membawa cerita betapa hidup di Kolang amat menyenangkan dan rezeki melimpah-ruah.Namun demikian mereka bukan pindah negeri,cuma merantau dan senantiasa berhasrat Mulak tu Huta -pulang ke kampung halaman .

.
              

Monday, February 23, 2015

KETURUNAN RAJA BORAYUN DI KAJANG..........,,,,,,,,,,

JHL
 )               KETURUNAN RAJA BORAYUN DI KAJANG,SELANGOR DE SEJAUH YANG DAPAT DI KETAHUI SAMPAI KINI.

               Menanggapi dambaan Raja Sharafi ,putra Raja Hassan(nama kecilnya Raja Kitam ? ) mengenai keturunan Raja Borayun di Kajang,saya dapat mengatakan bahwa 
terdapat sejumlah keturunan Raja Borayun yang tinggal di Lot 6747 Jalan Cheras, 43000 Kajang,Selangor DE.Rumah kayu bertiang (gaya Mandailing) didirikan di Lot itu oleh almarhum Raja Harun anak Raja Hidayat.Kini Raja Ayub anak Raja Harun dan keluarganya mendiami rumah pusaka itu.Raja Hassan (Raja Kitam nama kecilnya) pernah suatu waktu dahulu tinggal di rumah ini bersama-sama ayah-bunda dan saudara saudaranya yang lain seperti Raja Johari,Raja Talib,Raja Aman(Raja Naman) -  almarhum semuanya dan saudara perempuannya,Raja Shafiah.

               Putri(boru ?) Raja Hidayat ,Engku Maryam( Engku Yam/Engku Jam) almarhumah,pernah tingggal di kediamannya berhampiran dengan kediaman Raja Harun.Seorang lagi putri Raja Hidayat,Raja Aminah,demikian tutur orang ,tinggal di Mantin dan menikah dengan Hamzah.Anak mereka ,Muhammad Nor - guru sekolah latihan SITC,Tanjung Malim ,menikah pula dengan boru Hj Abd Majid,marga Lubis asal Tamiang,yg tingggal di Kajang.Namanya Hasnah ,saudara permpuan Tun Dr. Hj.Abdul Aziz Bin Hj Abd Majid.Anak Raja Hidayat,Raja Nordin tinggal di Semenyih,Selangor.

               Selanjutnya Raja Borayun adalah namora asal Pidoli Lombang di Mandailing Julu,hampir dng Kota Panyabungan.Marganya Nasution.Leluhurnya Mangaraja Saoloon Pidoli Lombang.

               Barangkali pada awal abad 19 Raja Borayun menyeberangi Selat Melaka untuk memulai lembaran baru dalam kehidupannya di Kolang(Selangor) yang dikuasai oleh suku Bugis pada waktu itu.Beliau telah membuka pemukiman halak Mandailing di Kajang (1) dan di Recko/Rekoh yang merupakan benteng pertahanan namora itu.Tepat sekali beliau dianggap sebagai Pendiri/Founder of Kajang (2) .Justru hubungan silaturahmi dan akrab dengan Istana Selangor,beliau dianugerahi gelar/titel Tengku Panglima Besar(3).

               Raja Borayun,namora asal Pidoli Lombang,menikah dengan Nyonya Chantik dan mendapat 3 orang anak(putra) : Raja Hidayat(Dayat) 2. Raja Allang 3. Raja Sulung(4).

               Anak-anak Raja Hidayat: 1. Raja Harun dan anak-anaknya -cucu Raja Hidayat tingggal serumah dengannya di Lot 6747, Batu  14  Jl Cheras,43000 Kajang,Sel.
                                                                        


                                                     2.Raja Nordin - pernah tinggal di Semenyih,Selangor.
                                                     3.Raja Maryam - tinggal di Batu 14,Jl Cheras,Kajang.
                                                     4.Raja Aminah - tingggal di Mantin,N.Sembilan.
                                                     5.Raja Sauyah ?
               Sementara itu Raja Allang yang kaya dengan hasil lumayan daripada perkebunannya yang luas di Kuala Langat dan Hulu Langat menurunkan 4 orang anak:

                                                     Raja Yaacob - dari istri pertama.
                                                     Raja Muhammad
                                                     Raja Saudah
                                                     Raja Arfah(5)

               Raja Allang meninggal dunia pada th 1927 setelah beliau pindah dari Kajang untuk menetap di Jalan Raja Laut,Kuala lumpur.Beliau disamadikan berhampiran dengan Makam Sutan Puasa/Naposo,Pendiri Kuala Lumpur.Di samping menumpuk kekayaan,Raja Allang merupakan narasumber mengenai keterlibatan koum Mandailing dalam hal-ihwal setempat.JC Pasqual,sejarawan yang banyak mencatat riwayat koum Mandailing di Malaya/Malaysia dalam abad 19 pernah mewancarai Raja Allang mengenai keterlibatan koum Mandailing dalam Perang Rawa/Rao di Pahang pada th
1848(6).Beliau juga banyak mengetahui kisah-kisah yang berlaku sebelum penobatan Abdul Samad sebagai Sultan Selangor untuk menggantikan Sultan Muhammad pada th 1857/1859(7).Demikian JC Pasqual.


               Raja Borayun,namora Mandailing yang paling berkuasa dan berpengaruh di Kesultanan Selangor yang dikuasai suku Bugis dimakamkan di Bukit Melawati Kuala Selangor.Beliau merupakan salah seorang Imam 
Perang Mandailing di samping Raja Asal dan Raja Bilah yang berperang menentang Sultan
 Abdul Samad dan anak raja Kedah ,Tengku Kudin dalam Perang Kolang/Perang Selangor(1867-1873).Angkatan Hulubalang Mandailing dan sekutu-sekutunya seperti Raja Mahdi,orang Rao/Rawa dan suku Hakka Kah Yeng Chew menderita kalah teruk.Halak Mandailing hampir dihapuskan keberadaannya.Mujurlah sebahagian besar mengungsi ke Negeri Perak(8).

               Walaupun bermusuhan dan memerangi satu sama lain,Raja Borayun dimakamkan juga di Bukit Melawati barangkali atas dasar silaturahmi dan rasa persahabatan yang akrab pada suatu waktu dahulu.Makam di situ khusus untuk kerabat Raja saja.Kemudian makam Raja Borayun di pindahkan ke kaki Bukit Jugra,Banting,Selangor agar berhampiran dengan makam Almarhum Sultan Abdul Samad (9).Kini makam Raja Borayun hampir pula ditelan semak dan belukar di seputarnya.

               Makam Nyonya Chantik,istri Raja Borayu dan ibunda Raja Allang,Raja Hidayat dan Raja Sulung kini terletak di Perkuburan Islam,Batu 14 ,Jl.Cheras,43000 Kajang,Selangor.

               Sekian sekelumit coretan yang Insya Allah diharapkan dapat sedikit-sebanyak  membantu upaya Yangmulia Raja Sharafi dan keturunan Yangmulia Raja Sauyah Raja Hidayat (almarhumah) ke arah menelusuri dan mengidentifikasi koum dan leluhur mereka.
                                     HORAS HORAS HORAS !!!

Hanafiah Kamalbahrin Lubis@
Kamar Ibrahim Alumnus KAJANG HIGH 1956.
                                                 
Narasumber:
1.Abdur-Razzaq Lubis & Khoo Salma Nasution:
   No.1  HORAS MANDAILING WEBSITE
        2  email 10/09/2013
        6, 7 HORAS MANDAILING WEBSITE
        8. Raja Bilah And The Mandailings In Perak:1875-1911 Page 21.

2.Utusan Malaysia S2  07/04/2012
   No. 3, 4, 5, 9.
 NB : Raja Sulung mempunyai seorang anak bernama R . Pangeran. Anak-anak R. Pangeran pula (cucu R .Sulung adalah : 1. Raja Adnan 2. Raja Sakdiah /SMA Lubis/Mandailing Pusing Perak 29 Mai 2015.       

HALAK MANDAILING MARGA RANGKUTI DI PERAK

L             Mayoritas Marga Rangkuti terdapat tinggal di Mandailing Godang dan mereka be rbagi nenek moyang yang sama dengan Marga Parinduri.Nenek moyang bersama itu namanya Datu Janggut Marpayung Aji yang berasal dari sebuah pemukiman tua ,Mandala Sena di Aek Marian Mandailing.(Mhd Arbain Lubis .bacaanmadani.com )
              Keberadaan halak Mandailing Marga Rangkuti di Kolang(Selangor) dan Perak - kini sebagian daripada Malaysia Barat dapat di telusuri ke awal abad 19 apabila namoranya Ja Marabun Rangkuti (Bendahara Raja) menginjakkan kaki di Kolang dan menetap di sana sewaktu pemerintahan Sultan Muhammad 1827 -1857.Namora ini bersama-sama keluarganya dan pengikutnya pasti telah menggabungkan diri dalam perpindahan massal halak Mandailing di bawah kesatuan pimpinan Raja Asal,Marga Nasution dari desa Maga di Mandailing Julu.Mereka tidak dapat meneruskan kehidupan di Tanah Mandailing lantaran kemelaratan yang berleluasa sebagai akibat penjarahan kampung halaman oleh angkatan Minangkabau sewaktu Perang Padri 1821 - 1837 berkecamuk di sana.Penderitaan bertumpuk penderitaan apabila Kolonial Belanda melancarkan exploitasi ekonomi yang dijuluki sebagai Cultuurstelsel.

             Ja Marabun Rangkuti dan pengikut-pengikutnya menggabungkan diri dengan Raja Asal bukan saja lantaran desakan hidup tetapi juga lantaran ikatan dan loyalitas kekeluargaan berdasarkan markoum sisolkot dengan Marga Nasution di Maga.Marga Nasution merupakan anak boru dan Marga Rangkuti merupakan mora.Ternyata kemudian makoum sisolkot ini terus dipraktekkan di Perak.

              Ibrahim Rangkuti/ Tok Stia Raja lahir di Kelang pada tahun 1826/1827.Bersama-sama dengan ayahnya dan para panglima -panglima Mandailing yang lainnya ,Tok Stia Raja ikut berjuang bahu-membahu dengan Raja Asal dan Sutan Puasa sewaktu Perang Selangor/Porang Kolang.Mereka menderita kekalahan teruk berhadapan dengan gabungan angkatan Melayu Kedah,Melayu Pahang ,Hakka Fei Chew Yap Ah Loy dan dalang Inggeris .Setelah kalah ,mereka menghadapi pemusnahan fisik,andai tak mahu disebut "genosida". Agar tidak terus diburu dan dibunuh,halak Mandailing mengungsi lagi pada kali yang kedua.Setelah menembusi hutan rimba dan mengalami penderitaan yang bukan kepalang,mereka berhasil sampai di tempat pengungsian yang baru - Negeri Perak.

             Pada tingkat awal di hujung pengungsian mereka ,halak Mandailing yang dimpin oleh Raja Asal  dan namora-namora yang lain seperti Raja Bilah( keponakan Raja Asal ) ,Tok Stia Raja/Ibrahim Rangkuti,Panglima Raja dan Raja Banding,namora dari Ampang,Selangor mendirikan pemukiman antara lain-lainnya di Ulu Bernam, Sungkai, Cikus,Sg Bil,Sg Berong,Kpg Trola dan Batang Padang - daerah perbukitan dan lembah  seperti di Tanah Mandailing sana.

             Apabila pengungsi-pengungsi Mandailing yang terkucil dari Negeri Selangor sampai di Perak Hilir,mereka mendapati keadaan politik sedang bergolak di sana sebagai akibat daripada Perjanjian Pangkor 1874.Residen Perak J W W Birch dibunuh oleh kaum pemberontak dan berlaku huru-hara.Raja Asal dan Raja Bilah telah membantu dalam Pasifikasi Negeri Perak.Sebagai imbalannya mereka mendapat konsesi timah daripada Inggeris 16 March 1876.Mereka diperboleh menambang /mencari timah di Lembah Kinta antara Blanja dan Kinta.

             Konsesi menambang/melombong timah yang diperoleh Raja Asal memberikan kesempatan kepada halak Mandailing bertransmigrasi ke Lembah Kinta.Maka Raja Asal dan kebanyakan warga Mandailing mulai meninggalkan daerah Slim dan Hulu Bernam menuju Durian Sebatang untuk menerobosi Lembah Kinta.Di seputar Tapah Raja Asal bertemu dengan Raja Idris( kemudain  Sultan Idris )yang menawarkan  Pangkalan Kacha ( kemudian Changkat Piatu ) buat mereka mendirikan pemukiman di Lembah Kinta.

             Raja Asal,Raja Bilah,Tok Stia Raja bersama-sama warga yang lain memulai "mamungka huta" -mendirikan huta atau pemukiman Mandailing yang baru .Prasyarat pemukiman telah terpenuhkan .Warganya terdiri daripada dua dan lebih marga untuk meneruskan 
MARKOUM SISOLKOT.Dewan Namora-Natoras dapat dibentuk daripada perwakilan setiap marga yang terdapat di Pangkalan Kacha.

               Setiap warga di Pangkalan Kacha mendirikan rumah masing-masing.Laki-laki dan perempuan menggarap sawah.Persawahan mereka di suatu tempat yang dijuluki Ladang Lebar dan mereka juga bertanam pohon buah-buahan .Sementara menunggu panennya,mereka mencari timah.

             Sementara itu di Pangkalan Kacha lahirlah tiga bayi Halak Mandailing yang pertama di Lembah  Kinta.Mereka itu Raja Bainah,Raja Muhammad Ya'qub anak Raja Bilah yang lahir tgl 18 July 1877 dan Abdul Kadir anak Tok Stia Raja.Jalinan markoum sisolkot antara Marga Nasution dan Marga Rangkuti berlaku lagi barangkali di Pangkalan Kacha juga apabila Alang Rahimah boru Tok Stia Raja menikah dengan Raja Muhammad Ya'qub anak Raja Bilah ,sosok Mandailing yang terpenting dan amat berpengaruh di Perak dalam abad 19.

             Sebenarnya Tok Stia Raja ini menikah dengan 3 orang istri dan memperoleh 24 orang anak dan anak perempuan.Tetapi 7 meninggal sewaktu masih bayi.

             Tok Stia Raja terus pula memantapkan markoum sisolkot dengan keluarga Haji Muhammad Bassir Gading Raja asal Pidoli yang merupaka satu lagi sosok Mandailing yang kaya dan penting di Lembah Kinta.Haji Bassir Gading Raja ini pernah pula menggabungkan diri dengan Contingent Gopeng pimpinan Imam Perang Ja Barumun untuk menghadapi Pemberotakan di Pahang 1891.Anak Tok Stia Raja, Abdul Kadir menikah dengan Fatimah,putri Haji Muhammad Bassir.Putri Haji Bassir  yang lain Aishah menikah pula dengan Yeop Abdullah Sani,seorang lagi anak laki -laki Tok Stia Raja .Anak perempuan Haji Bassir yang kedua ,Hajjah Aminah menikah dengan Muhammad Jabor, orang kaya yang memiliki tanah yang luas,lombong/tambang timah ,perkebunan getah dan dan dusun di Kampar .(A R Lubis RBMP Pg 250)

             Setelah beberapa lama menetap di Pangkalan Kacha,Tok Stia Raja dan halak Mandailing yang menjadi pengikutnya terutama dari Marga Rangkuti pindah ke Batu Gajah apabila tempat itu dibangun sebagai sebuah pangkalan sungai pada tahun 1881 guna menyalurkan barang-barang dan jasa/perkhidmatan ke ribuan pekerja Cina di lombong/tambang timah di Lembah Kinta.Yang lebih penting Batu Gajah direncanakan menjadi pusat penumpukan timah untuk diexpor lewat Sg Kinta .

            Tok Stia Raja membeli tanah yang akan menjadi situs deretan kedainya di Batu Gajah( Pekan Lama ) .Disamping mengusahakan kedai /toko beliau berjual dan membeli timah .Beliau berhasil menumpuk harta lantaran kegiatan ekonominya .Tetapi harta dan kekayaannya hampir sirna setelah diwarisi oleh Abdul Kadir anaknya.

            Satu lagi sumbangan Tok Stia Raja memajukan Batu Gajah ialah menerapkan teknologi ampangan khas Mandailing untuk menjadikan tanah yang kering gersang produktif.Dibuatnya bendungan pada sebuah anak sungai yang mengaliri tanah yang kering di dekat station Batu Gajah agar tanah itu tergenang .Hal yang demikian membolehkan 1,000 kuli Cina mendulang timah.Tok Stia Raja memohon seluas 900 ekar lagi untuk digenangi dengan teknologi bendungan /ampangan Mandailing dan mungkin akan memberikan pekerjaan kepada 5,000 kuli di Batu Gajah menjelang penghujung th 1891.

             Tok Stia Raja mencoba pula menjadi entrepreneur di bidang pertanian dan beliau membuka perkebunan getah/karet di Batu Gajah . Namanya MALAYAN ESTATE BATU GAJAH PERAK FMS.

          Sebagai seorang entrepreneur beliau berhasil menumpuk kekayaan dan kemudian membina tiga gedung kediaman buat keluarga besarnya.Kediamannya yang terkenal diberi julukan Rumah Kuning yang diruntuhkan tahun 1997.Fotonya yang mengabadikan memori gedung kediaman ini terdapat pada Halaman 69 AR LUBIS/RBMP.

           Tok Stia Raja tutup usia pada tahun 1926 di Batu Gajah.Marga Rangkuti  di Batu Gajah dan di tempat-tempat yang lain di Malaysia khususnya dan di Sumatra umumnya didirikan oleh Datu Janggut Marpayung Aji (Sutan Pandapotan.Medan 1983.)

           Selanjutnya tarombo Tok Stia Raja/ibrahim Rangkuti adalah seperti berikut:

           Tok Stia Raja ( Ibrahim Rangkuti ) anak Bendahara Raja ( Ja Marabun Rangkuti ) anak Ja Marchaya anak Ja Panjadian anak Ja Manusun anak Namora Saangkupon anak Raja Gading Sarwaran anak Datu Janggut Marpayung Aji anak Babiat Sobuon .Marga Rangkuti mempunyai nenek muyang yang sama dengan Marga Parinduri .( A R Lubis & K S Nasution.RBMP  2003. Pg 243/ Hashim Sam 2002 . Pg 64

            ( artikel seluruhnya berdasarkan karya besar A R Lubis & K  S  Nasution. RBMP 2003 )

Hanafiah kamalbahrin lubis
29 05 2015 @ 0051 hrs.

            


             

Friday, February 13, 2015

WALIMAH /RESEPSI DALAM RANGKA PERNIKAHAN YASMIN-ASHRAF PD TANGGAL 14 FEB 2015

Walimah berlangsung di Dewan Teratai,Maktab Penjara Malaysia ,Kompleks Penjara Kajang,Selangor.

FLOW OF EVENTS DAN GAGASAN(SARAN ) PENGUMUMAN DAN UCAPAN SINGKAT /PENJELASAN SINGKAT OLEH PENYIAR.

          12.00 pm : Para tamu mulai berdatangan: (musik berunsur islami dialunkan)
                           Ucapan : Selamat Datang.Termakasih menyempatkan waktu ke walimah.Sila masuk ke dalam dewan- makan2 sambil bersilaturahmi.
                           Ucapan/pengumuman diulang seperlumya.Musik diteruskan easy listening style dan tidak mengganggu percakapan sampai event selanjutnya.

           1.15 pm (lebih-kurang) : Rombongan dari keluarga Pengantin Laki-laki mulai sampai.Ucapan Selamat Datang dan penjelasan/pengumuman :
            Ayah pengantin(Tuan Syed Alwi) dan Ibundanya memimpin rombongan - ada yang dari Rawang.Dua orang nenekanda Pengantin Laki-Laki juga dalam rombongan-tanda belas dan sayang kepada cucu/Pengantin.Rombongan juga di sertai oleh Tan Sri Abdul Ghaffar Mahmud,pakcik Pengantin.

            Sebagai tanda sayang dan kepedulian ,diundang juga sejumlah yatim-piatu 
            dari Rumah Nurhikmah di Taman Mesra,Kajang.( duduk di mana saja agar berbaur dng para undangan dan mereka tidak merasa disisihkan.)

            Pengumuman selanjutnya : ( buat rombongan keluarga Pengantin Laki2).
            Dipersilakan ke meja khas di depan pentas.
            Kalau sesuai pengumuman diulang.

            Biarkan Azan Zuhur berlalu. Pengumuman dan musik stop.

           1.45 pm : Kedua mempelai sampai dengan iringan paluan kompang.           
                          Ucapan (setelah kompang terhenti)  :
                          Pengantin Laki-laki : Syed Muhammad Ashraf bin Syed Alwi - warga asal Ampang;bekerja di Rawang.Anak sulung dan satu-satunya laki2. Dua saudara yang lain perempuan.
                          Pengantin Perempuan : Yasmin Nadirah binti Haji Hanafiah Kamalbahrin Lubis - warga asal Kajang. Bekerja di Kajang.Satu-satunya perempuan .Abangnya laki2 ; adiknya laki2(yang bungsu).
                          Selanjutnya: Dipersilakan mempelai ke Meja Santapan .
                                                     ".          Ayahanda,Ibundanya dan keluarga terdekat 
                                                                 mendampingi kedua-dua Pengantin.
                                             Dipersilakan  kedua ibu-bapa dan keluarga terdekat Pengantin Perempuan mendampingi mempelai di Meja Santapan.

                         DOA (Mengawali persantapan)
                         Mohon adik Pengantin Perempuan ,Sdr 
 Fuad Husni tampil melafazkan DOA SELAMAT DAN KESYUKURAN.
                  ( dari tuan rumah - Pengantin Perempuan)
                            INSYA ALLAH !